Broken String: Kepingan Masa Muda yang Patah

Broken String: Kepingan Masa Muda yang Patah

Karya Aurelie Moeremans

Tulisan ini dibagikan untuk tujuan edukasi dan peningkatan kesadaran. Diharapkan pembaca dapat lebih memahami tanda-tanda relasi yang tidak sehat, praktik manipulatif, serta pentingnya perlindungan terhadap anak dan penyintas kekerasan sejak dini.

Trigger Warning: pelecehan seksual, child grooming, manipulasi.

Dalam beberapa waktu terakhir, Broken String: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurelie Moeremans menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ditulis dari sudut pandang yang sangat personal, memoir ini mengangkat pengalaman traumatis yang mendalam. Oleh karena itu, pembaca disarankan untuk memastikan kondisi mental yang cukup aman dan tenang sebelum membaca, mengingat kontennya mengandung isu sensitif yang berpotensi memicu trauma.

Melalui buku ini, Aurelie Moeremans membuka bagian paling menyakitkan dalam masa kecilnya. Ia mengisahkan pengalaman menghadapi pelecehan seksual, praktik child grooming, relasi yang toksik, manipulasi psikologis, serta tekanan sistem patriarki. Dalam narasi tersebut, Aurelie—yang saat itu masih berada di bawah umur—digambarkan berada di bawah kendali seorang laki-laki dewasa bernama Bobby. Sosok ini secara sistematis melakukan pencucian pikiran, membangun ketergantungan, dan memanfaatkan kepolosan korban.

Buku ini juga menyoroti bagaimana perempuan tidak hanya diposisikan sebagai korban, tetapi kerap dijadikan objek pelecehan, bahkan disudutkan seolah-olah sebagai pelaku. Salah satu poin paling menyayat adalah absennya figur orang dewasa yang mampu hadir untuk melindungi, membimbing, dan menarik korban keluar dari situasi berbahaya. Keheningan dan kelalaian ini menjadi kritik sosial yang kuat dalam kisah tersebut.

Tokoh Bobby digambarkan sebagai figur yang dominan, abusif, dan sarat dengan praktik gaslighting. Ia menciptakan ketergantungan emosional, menggunakan ancaman sebagai alat kontrol, serta memanfaatkan simbol dan narasi agama untuk membenarkan tindakannya. Pola kekuasaan dan intimidasi ini juga tergambar melalui karakter lain, seperti Angel, yang menunjukkan bagaimana lingkaran kekerasan dapat terus berulang dan melibatkan banyak pihak.

Melalui Broken String, Aurelie Moeremans tidak hanya menghadirkan kisah personal, tetapi juga membuka ruang diskusi yang penting tentang bahaya child grooming—praktik manipulatif yang masih sering luput dikenali, bahkan hingga korbannya beranjak dewasa. Buku ini menjadi pengingat bahwa relasi yang penuh tanda bahaya (red flag) kerap dibungkus dengan cinta, kepercayaan, atau otoritas semu.

Dengan keberanian menceritakan pengalamannya, Aurelie berharap masyarakat dapat menjadi lebih sadar dan peka: bahwa kasus serupa sebenarnya bisa dikenali lebih awal, bahwa korban perlu didengar dan dipercaya, serta bahwa perlindungan terhadap anak dan penyintas harus dimulai sedini mungkin.

Broken String adalah suara yang lahir dari keberanian.

Terima kasih karena telah memilih untuk jujur, meski itu berarti membuka kembali luka lama. Buku ini bukan sekadar kisah pribadi, melainkan ruang aman bagi banyak penyintas untuk merasa dilihat, dipercaya, dan tidak sendirian. Semoga semakin banyak yang berani bersuara, dan semakin sedikit yang harus terluka dalam diam.

Dalam dua jam pertama membaca memoir ini, hatiku diliputi pergulatan. Aku sampai pada satu kesadaran pahit: tidak semua orang dewasa benar-benar bertumbuh menjadi dewasa. Luka tidak pernah sepenuhnya pudar. Ia berjalan berdampingan dengan perjalanan hidup. Trauma adalah nyata—sebagian mungkin tertinggal dalam catatan, namun sebagian lain memilih bertahan, memberi kesaksian.

Aku ada untukmu—dalam luka, dan dalam proses penyembuhan.

Continue reading Broken String: Kepingan Masa Muda yang Patah

Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap – Perjalanan Emosional Bersama Toshikazu Kawaguchi

Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap – Perjalanan Emosional Bersama Toshikazu Kawaguchi


Bagi para pecinta kisah yang hangat dan penuh renungan, Toshikazu Kawaguchi kembali hadir dengan novel Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap (Gramedia Pustaka Utama, 200 hlm). Sekilas, novel ini tampak sederhana, namun di balik setiap halamannya tersimpan cerita-cerita yang mengaduk perasaan—tentang cinta, penyesalan, harapan, dan cara manusia berdamai dengan masa lalu.


Empat Kisah, Satu Benang Merah


Novel ini terbagi menjadi empat bagian, masing-masing menghadirkan tokoh yang berbeda, namun semuanya terhubung melalui satu premis magis: sebuah perjalanan singkat ke masa lalu lewat secangkir kopi di kafe kecil bernama Funiculi Funicula.

Tapi ada satu aturan penting—perjalanan itu bukan untuk mengubah masa lalu. Tujuannya adalah untuk memahami, menerima, dan menyembuhkan hati.


Kutipan yang Menyentuh Hati


Salah satu bagian paling membekas ada pada halaman 101:


“Kasih sayang orangtua terhadap anaknya tiada habisnya, dan bagi orangtua, anak mereka tetaplah anak-anak tak peduli usianya. Perasaan itu tidak berubah.”



Kawaguchi mengemas pernyataan ini dengan begitu tulus. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kekuatan emosional yang mengingatkan kita bahwa hubungan orangtua dan anak adalah sesuatu yang tak lekang waktu—penuh kasih, meski kadang tak terucap.


Dengan gaya bahasa yang lembut dan reflektif, Kawaguchi tak hanya mengajak pembaca mengikuti alur cerita, tetapi juga mendorong mereka untuk merenung. Kita diajak melihat betapa pentingnya menghargai keberadaan orang-orang terdekat, mengungkapkan perasaan selagi bisa, dan menumbuhkan keikhlasan atas luka yang pernah ada.


Funiculi Funicula bukan hanya bacaan pengisi waktu luang. Ia adalah cermin kehidupan—mengingatkan kita akan arti komunikasi, kehangatan, dan kesempatan kedua (meski hanya dalam hati).

Novel ini akan meninggalkan rasa hangat, bahkan setelah halaman terakhir ditutup. Cocok bagi siapa pun yang pernah merasakan kehilangan, kerinduan, atau cinta yang tak sempat terucap.


Continue reading Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap – Perjalanan Emosional Bersama Toshikazu Kawaguchi

Ulasan Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold

 


Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold

Toshikazu Kawaguchi | Gramedia Pustaka Utama | 224 hlm

Tak Akan Mengubah Takdir, Tapi Cukup untuk Memahami


Bayangkan kamu duduk di sebuah kafe kecil, agak tersembunyi di gang sempit. Lampunya temaram, aromanya wangi kopi yang baru diseduh. Di pojok ruangan, ada kursi kosong—konon katanya, kalau kamu duduk di situ, kamu bisa kembali ke masa lalu.


Tapi ada syaratnya: kopimu harus habis sebelum dingin. Kalau tidak… kamu akan terjebak di masa lalu selamanya.


Di kafe ini, kita akan bertemu empat orang dengan cerita berbeda. Ada pasangan kekasih yang ingin memperbaiki kesalahpahaman, suami-istri yang menyimpan luka diam-diam, kakak dan adik yang saling menjauh, hingga seorang ibu yang rela menembus waktu demi melihat bayinya lahir.


Lucunya, mereka semua tahu satu hal: meski kembali ke masa lalu, kenyataan tidak akan berubah. Orang yang pergi, tetap akan pergi. Perpisahan, tetap akan terjadi. Tapi anehnya… mereka tetap ingin melakukannya.


Kenapa?

Karena kadang, yang kita butuhkan bukanlah mengubah takdir, melainkan memahami. Satu momen tatapan mata, satu kalimat yang tak sempat diucapkan, satu pelukan terakhir—itu sudah cukup untuk membuat hati lebih tenang.


Bagian yang paling bikin hati hangat adalah kisah sang ibu yang datang dari masa lalu demi menyambut kelahiran anaknya di masa depan. Ada keberanian di sana. Ada cinta yang begitu dalam. Ada harapan yang tidak bisa dihentikan oleh batas waktu.


Dan di akhir, setiap tokoh pulang dengan hati yang sedikit lebih kuat. Mereka belajar melepaskan, mencintai dengan lebih tulus, dan menghargai waktu yang masih mereka punya. Karena, pada akhirnya, hidup memang bukan tentang mengubah masa lalu—tapi berdamai dengannya.


Jadi… kalau kamu punya kesempatan duduk di kursi itu, siapa yang ingin kamu temui?

Continue reading Ulasan Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold